“Bapak Mehmet, kehamilan istri anda sangat rentan terhadap pendarahan. Sangat tidak disarankan aktifitas berat, dan jika terjadi pendarahan, walau sedikit darah yang keluar, segera hubungi ambulance dan pergi ke rumah sakit besar yang fasilitasnya paling lengkap.” Untuk kesekian kalinya aku mendengar peringatan yang sama, dari dokter dokter dan rumah sakit yang berbeda.
Di peralihan musim dingin ke musim semi, kehamilanku memasuki tri semester akhir. Aku berubah dari gadis ceria penuh energi, menjadi seperti badut yang tak lucu, cara berjalanku seperti pinguin tua yang takut jatuh, cara dudukku aneh yang tak sopan, duduk bersandar tidak nyaman, tengkurap tidak mungkin, tidur pun tak sepulas dulu. Aku kehilangan kepercayaan diri melihat tubuhku berubah, perlahan bersiap menjadi seorang ibu.
Walau sebenarnya, aku masih sangat membutuhkan sosok ibu.
Aku seperti membawa semangka yang menempel erat di perutku, tapi kali ini di dalamnya ada makhluk hidup yang bergerak lincah tak kenal waktu. Kami memanggilnya janin Zae, dia suka sekali menendang, mengetuk-ngetuk dengan ritme yang sama, mengulat, membuatku mulas agar ruang geraknya lebih luas. Ia pintar menyembunyikan diri dari sinar usg, ia sengaja terus bergerak sehingga dokter kesulitan memantau perkembangannya, butuh waktu lebih lama mencari, menebak posisinya hingga dokter menekan nekan perutku agar Zae menyerah dan diam sejenak. Zae menendang ketika aku memakan desert manis, menendang ketika aku telat makan, dan menendang ketika posisi tidurku miring terlalu lama. Ia janin yang suka menuntut dan keras kepala, aku melirik Mehmet ketika mengatakan itu.
Di perantauan, aku kehilangan sahabat sahabatku yang meneruskan hidupnya di tempat lain. Tendangan kecil janin Zae, membuat rasa kesepianku menghilang. Ia yang selalu bersamaku, ia yang selalu kami usahakan perkembangannya, ia yang membuatku tak takut jarum suntik hanya untuk memastikan kondisinya. Membuatku tak takut jika kehamilan pertamaku didiagnosa beresiko.
Ketakutan terbesarku hanya bagaimana jika aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya.
Setiap berkunjung ke rumah kerabat atau sahabat yang baru saja melahirkan, aku selalu enggan menggendong bayi newborn, menurutku bayi newborn tampak begitu rapuh, sensitif dan aku tidak mau mengambil resiko jika bayi newborn yang begitu dicintai orangtuanya terkena paparan virus orang dewasa yang mengunjunginya, dan berakibat fatal pada kondisi kesehatan bayi. Bayangkan saja, bayi yang ibu dan ayahnya usahakan, jaga dan rawat 9 bulan lamanya di dalam kandungan dan berhasil melahirkan dalam kondisi bayi sehat sempurna, namun hanya karna sentuhan, ciuman, pelukan orang dewasa lain yang tanpa sadar menjadi perantara virus, atau kilatan cahaya kamera yang terlalu dekat dan dapat membahayakan penglihatan bayi. Sebagai orangtua, aku pasti akan sangat marah.
Jika berkunjung dan ingin menggendong sebaiknya cuci tangan terlebih dahulu, pastikan pakaian yang dikenakan bersih dari polusi atau asap rokok. Sebaiknya tidak mencium pipi bayi atau pura pura mengigitnya hanya karena gemas, kita tidak tahu virus apa yang kita bawa ketika dalam perjalanan menuju rumah bayi. Selalu pastikan apa yang kita lakukan pada bayi telah diizinkan oleh orangtuanya, bahkan atas concern si bayi itu sendiri. Jika bayi terus menangis dan mengelak disentuh, maka jangan dipaksakan. Karena ketika kita pulang, yang menghadapi tangisan keras bayi karena overstimulate adalah orangtuanya.
Dan sebentar lagi jika Allah mengizinkan, aku dan Mehmet akan bertransformasi sebagai orangtua. Ada tanggung jawab besar yang baru kusadari. Mehmet tampak lebih siap menjadi seorang ayah dibanding aku si ratu drama. Bahkan sebelum menikah ia sudah menyiapkan dana pendidikan untuk anaknya yang belum ia ketahui dengan siapa ia menikah nanti. Sementara aku di awal menikah adalah yang paling bersemangat memiliki anak, namun aku jugalah yang sering menangis merasakan beratnya perjuangan ibu hamil.
Tapi ibuku tidak mengeluh, ia hamil lagi setelah 3 bulan melahirkanku, membuat aku dan adikku memiliki selisih usia 1 tahun. Di masanya, tangan kanan ibuku mengenggam abangku yang berusia 5 tahun, tangan kirinya menuntunku yang masih berusia 1 tahun sementara adikku menggantung di gendongannya.
Ibu mertuaku juga tidak mengeluh, memiliki lima anak yang anak pertama ia lahirkan di usianya yang masih 19 tahun. Mehmet anak ke-empat yang dilahirkannya secara normal namun beresiko karna posisi bayi yang sungsang dan postur tubuh bayi lebih besar dari bayi pada umumnya. Ia melahirkan anak ke-lima diusia akhir 30 tahun dan dokter yang menyatakan bahwa ia tidak boleh hamil kembali melihat riwayat kehamilannya yang terlalu beresiko.
Menghadapi fakta bahwa kondisi kehamilan pertamaku juga beresiko dan tidak ada kemungkinan bagiku melahirkan normal sepertinya begitu menakutkan Mehmet.